Tampilkan postingan dengan label Telematika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Telematika. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Januari 2015

Kasus Telematika

Perkembangan telematika yang telah berkembang pesat dewasa ini, telah memberikan manfaat yang tidak sedikit pada kehidupan masyarakat. Kemudahan yang ditawarkan dapat membuat penggunanya dapat memanfaatkan telematika tersebut untuk kegiatan yang positif. Namun amat sangat disayangkan pula, kemudahan yang diberikan telematika tersebut juga dapat memberikan dampak negatif bila digunakan oleh orang-orang yang berniat jahat atau oeh orang yang tidak mengerti bagaimana menggunakan telematika dengan semestinya. Berikut ini akan diberikan 3 kasus yang terjadi pada bidang telematika.

Kasus 1 : Waspada! Malware Sedot Pulsa Intai Pengguna Android
Liputan6.com, Tiongkok - Pasca pelarangan penggunaan produk keamanan komputasi dari perusahaan asing, kini para pengguna smartphone Android di Tiongkok kabarnya mulai diserang sebuah malware baru yang cukup berbahaya. Malware yang diketahui bernama XXshenqi ini beredar luas melalui SMS dan telah menjangkiti jutaan smartphone Android di Tiongkok. 

Bila pengguna mengklik link yang ada di dalam SMS, maka smartphone akan secara otomatis mengunduh sebuah aplikasi berisi malware. Malware ini akan secara terus menerus memaksa smartphone Anda untuk mengirimkan SMS berisi link yang sama ke seluruh daftar kontak. Hal ini menyebabkan pulsa pada perangkat pengguna terkuras tanpa disadari.

Dilaporkan laman Xinhua, Selasa (5/8/2014), banyak pengguna smartphone di Tiongkok yang terdorong membuka SMS dan meng-klik link di dalamnya karena merasa pesan tersebut dikirimkan oleh kontak yang mereka kenal.

Permasalah malware ini menjadi begitu serius hingga pihak kepolisian Tiongkok pun harus ikut turun tangan menyelesaikan masalah. Melalui jejaring sosial Sina Weibo, kepolisian Tiongkok merilis pengumuman resmi yang berisi imbauan agar para pengguna smartphone tidak tergoda untuk membuka SMS berisi malware tersebut.

Selain itu, divisi cybercrime kepolisian Tiongkok juga membuka layanan pengaduan bagi para pengguna smartphone yang perangkatnya sudah terlanjur terjangkit malware XXshenqi.

Untungnya sejauh ini belum ada informasi yang menunjukkan bahwa malware ini beredar di luar Tiongkok. Namun para pengguna perangkat berbasis Android tetap disarankan untuk waspada.

Pemerintah Tiongkok sendiri baru-baru ini diketahui memblokir produk-produk keamanan komputasi dari produsen luar negeri. Symantec dan Kapersky adalah dua perusahaan kemanan komputasi ternama dunia yang turut kehilangan pasar di Tiongkok akibat diberlakukanya kebijakan tersebut.

Sebagai gantinya, pemerintah Tiongkok mempercayakan kemanan komputasi bagi rakyatnya kepada sejumlah produsen lokal seperti Qihoo 360 Technology Co dan Venustech.

Tanggapan dan Ulasan : kejahatan telematika melalui sebuah malware memang bukan merupakan sesuatu yang baru. Bila sebelumnya perangkat yang banyak diserang malware adalah pada platform desktop, maka sekarang para pelaku cybercrime telah banyak beralih pada divisi mobile. 

Kasus diatas adalah salah satu contoh dari penyalahgunaan teknologi telematika karena kasus tersebut dapat merugikan satu pihak. Kasus tersebut juga sudah dpat dikaitkan pada suatu tindakan kejahatan dan pelakunya dapat menerima hukum pidana dari pemerinah Negara yang bersangkutan. 

Bila kita mengambil sisi positif dari kasus diatas, hal itu akan memberikan kita pembelajaran untuk selalu waspada dalam menggunakan suatu perangkat baik keras maupun lunak, dan kasus diatas juga dapat memberikan peringatan pada pihak pengembang sistem operasi dan pemerintah yang bersangkutan untuk lebih memberikan keamanan pada masyarakat yang menggunakan teknologi telematika tersebut.

Kasus 2 : Hati-hati, Ada Alat Sadap di Produk Import Asal AS
Liputan6.com, Menurut sebuah laporan terbaru yang dirilis The Guardian, pihak NSA (National Security Agency) dicurigai memasangkan alat sadap (spyware) pada berbagai jenis perangkat elektronik yang diproduksi oleh perusahaan asal Amerika Serikat.

Mengutip laman Cnet, Rabu (14/5/2014), adalah Glenn Greenwald, seorang jurnalis politik yang juga menulis buku soal Edward Snowden yang mengungkapkan bahwa besar kemungkinan NSA memasangkan alat pengintai (surveillance) pada perangkat elektronik sebelum diekspor ke luar AS.

Mantan kolumnis Guardian US itu mengklaim bahwa asumsinya didasari oleh data yang terdapat pada dokumen rahasia milik Edward Snowden. Greenwald mengaku mendapatkan rincian informasi yang dapat membuktikan jika NSA memang kerap mengaplikasikan alatsurveillance pada berbagai jenis hardware elektronik yang diekspor ke luar negeri.

Sebelumnya NSA juga baru saja terbukti memata-matai perusahaan asal China, Huawei. NSA disebutkan telah mendapat kode sumber untuk mengakses individu yang menggunakan produk Huawei.

Laman Phone Arena melansir, pengintaian dilakukan NSA guna mengetahui hubungan antara Huawei dan Tentara Pembebasan Rakyat China. Mereka juga mencurigai Huawei melakukan pengintaian ke negara lain melalui fasilitas jaringan dan handset buatannya.

Bahkan, NSA dilaporkan telah berhasil menyusup ke server Huawei yang disimpan secara rapat di markas besarnya di Shenzhen, China. Tindakan itu membuat NSA mungkin saja melakukan 'operasi serangan cyber' menggunakan fasilitas Huawei bila mendapat perintah dari Presiden Amerika Serikat.

Tanggapan dan Ulasan : Setiap Negara memiliki hak untuk melindungi negaranya sendiri. Namun hal itu tidak akan berlaku bila Negara tersebut juga dapat mengancam keselamatan Negara lain untuk melindungi negaranya sendiri. 

Pada kasus diatas, pemasangan alat penyadap dapat berdampak negatif pada satu pihak. Dengan penyadapan tersebut, maka Negara sahabat yang menjadi target akan menjadi tidak memiliki kepercayaan pada Negara penyadap. Dan Negara penyadap juga sudah berprasangka buruk pada pihak yang disadap. 

Penyadapan tersebut memang berguna bila yang menjadi pihak yang disadap adalah Negara musuh, namun bila sasarannya Negara sahabat, maka akan berdampak pada hubungan diplomatik kedua Negara dan dapat berakibat pada permusuhan antar Negara.
Hal negatif yang paling terlihat pada suatu kasus penyadapan adalah pelanggaran terhadap privasi seseorang. Pelanggaran dalam pemanfaatan alat pengintai diatas dapat mendapat ganjaran hukum pidana dari otoritas international. 

Kasus 3 : Remaja 17 Tahun Berhasil Retas 70 Juta Kartu Kredit
Menurut laporan yang dirilis Reuters, sepanjang tahun 2013 lalu sebanyak 70 juta data kartu kredit berhasil dicuri oleh hacker yang berhasil meretas sejumlah departemen store barang-barang mewah.

Melihat kondisi yang memperihatinkan ini, perusahaan sistem keamanan komputasi Intel Crawler melakukan investigasi mendalam atas kasus yang terjadi. Dan menurut hasil penelusuran, teridentifikasi bahwa serangan cybercrime ini berasal dari Rusia.

Namun yang mengejutkan adalah, dilansir laman Fox News, Senin (20/1/2014), pelaku kejahatan cyber ini disinyalir adalah seorang hacker remaja yang baru berusia 17 tahun. Tempat tinggalnya pun diperkirakan berada di wilayah perkotaan St. Petersburg, Rusia.

Lebih lanjut diterangkan, meski tak diungkapkan identitasnya, namun pihak Intel Crawler sudah mengetahui siapa identitas asli remaja ini. Sang pelaku bahkan telah tenar di dunia maya dan lingkungan bawah tanah para hacker dunia karena sukses menciptakan lebih dari 60 software hacking tools untuk memudahkan praktik peretasan.

Semantara untuk kasus pencurian 70 juta data kartu kredit dari sejumlah departemen store barang-barang mewah, Intel Crawler menyebutkan sang pelaku memanfaatkan malwarejenis Trojan untuk ditanamkan pada sistem pembayaran kartu kredit. Dengan begitu, ia dapat dengan mudah mengumpulkan data-data pemilik maupun transaksi kartu kredit yang dilakukan di sejumlah departemen store tersebut. (dhi)

Tanggapan dan Ulasan : kasus diatas merupakan salah satu contoh kasus cybercrime (Kejahatan Telematika) yang dikenal dengan Hacking. Kasus diatas tidak hanya akan melanggar pasal-pasal dalam undang-undang telematika, namun kejahatan diatas juga sudah melanggar undang-undang kejahatn pencurian. Kasus tersebut menunjukan penyalahgunaan teknologi telematika yang berakibat pada pencurian harta milik orang lain. Menurut saya, pelaku yang melakukan hal tersebut sebaiknya diberi hukuman yang cukup keras agar jera.   


Source and Reference :


Minggu, 09 November 2014

Teknologi Antarmuka Telematika

Sebuah antarmuka atau interface adalah merupakan suatu layanan dari sistem operasi yang berguna sebagai sarana interaksi antara pengguna dan sistem operasi tersebut. Terdapat dua jenis antarmuka yang dipakai saat ini. Kedua jenis antarnuka tersebut adalah Command Line Interface (CLI) dan Graphical User Interface (GUI).

Di bidang telematika, terdapat banyak teknologi yang dipakai untuk membuat antarmuka telematika tersebut. Apa sajakah teknologi yang digunakan tersebut? Tulisan kali ini akan memberikan pengertian dan contoh dari teknologi yang digunakan.

Head Up Display (HUD)
Head up Dysplay adalah suatu teknologi dimana digunakan suatu tampilan yang transparan yang menyajikan data dimana penggunanya tidak perlu melihat dari sudut pandang biasa. HUD pada awalnya dipakai pada tahun 1950 dalam bidang kemiliteran.

Teknologi HUD terbagi kedalam 3 Generasi yang ditandai dengan penggunaan teknologi layar yang berbeda satu sama lain. Generasi pertama dari HUD menggunakan teknologi CRT untuk menghasilkan suatu gambar pada layar fosfor. Generasi Kedua menggunakan sumber cahaya padat seperti LED yang dimodulisasi oleh sebuah LCD untuk menampilkan gambar. Generasi ketiga dari HUD menggunakan teknologi Waveguides Optic untuk menghasilkan gambar secara langsung pada layar. Berbeda dengan teknologi sebelumnya yang masih menggunakan sistem proyeksi.

Teknologi HUD saat ini sudah cukup banyak dipakai tidak hanya pada bidang kemiliteran, namun juga oleh berbagai bidang lainnya. Salah satu contoh teknologi HUD yang dikenal oleh masyarakat luas dan sudah diproduksi secara komersil adalah teknologi Google Glass.

Tangible User Interface (TUI)
Tangible User Interface adalah sebuah antarmuka dimana pengguna dapat berinteraksi dengan system operasi melalui peralatan berbentuk fisik. Teknologi ini, dulunya bernama Graspable User Interface. Salah satu penemu dari teknologi ini adalah Hiroshi Ishii. Beliau merupakan seorang professor di MIT Media Laboratory yang mengepalai di Tangible Media Group.

Contoh sederhana dari TUI adalah Mouse komputer. Beberapa contoh lainnya yang menggunakan telnologi TUI adalah Marble Answering Machine (Durrell Bishop, 1992), Tobopo System dan Jive.

Computer Vision
Computer Vision adalah proses otomatis yang mengintegrasikan sejumlah besar proses untuk persepsi visual, seperti akuisisi citra, pengolahan citra, pengenalan dan membuat keputusan. Computer Vision mencoba meniru bagaimana cara kerja system visual manusia (Human Vision) yang sebenarnya sangat kompleks. Objek dilihat oleh manusia dengan indra penglihatan/mata. Kemudian citra objek dilanjutkan ke otak untuk dinterpretasi sehingga manusia dapat mengerti objek apa yang terlihat dalam pandangan penglihatannya.

Contoh yang paling mudah dalam penggunaan Computer Vision adalah pendeteksian sidik jari. Teknologi Computer Vision kebanyakan sudah tersambung dengan suatu aplikasi dan dapat dipakai oleh masyarakat luas secara bebas. Salah satu contoh dari aplikasi Computer Vision adalah Matlab yang berhubungan dengan Imag Processing (Pengolahan Citra). Selain itu, adal Reactrix yang dipakai dalam bidang pengiklanan suatu produk di satu lokasi  seperti di mall.

Browsing Audio Data
Browsing Audio Data merupakan Metode brosing jaringan yang digunakan untuk browsing video/audio dat yang ditangkap oleh sebuah IP camera. Sebuah komputer lokal digabungkan ke LAN (Local Area Network) untuk mendeteksi IP camera.  

IP camera merupakan alat yang paling dibutuhkan dalam penggunaan teknologi ini. Salah satu contoh IP camera adalah Axis Nateye 200 yang merupakan IP camera pertama.

Speech Recognition
Speech Recogniton adalah suatu teknologi yang memungkinan computer untuk menerima masukan berupa kata yang diucapkan. Teknologi ini memungkinkan suatu perangkat untuk mengenali dan memahami kata-kata yang diucapkan dengan cara digitalisasi kata dan mencocokan sinyal digital tersebut dengan suatu pola tertentu yang tersimpan dalam suatu perangkat. Kata-kata yang diucapkan diubah mejadi sekumpulan angka yang kemudian disesuaikan dengan kode-kode tertentu untuk mengidentifikasi kata-kata tersebut. Hasil dari identifikasi kata yang diucapkan dapat ditampilkan dalam bentuk tulisan atau dapat dibaca oleh perangkat teknologi sebagai sebuah komando untuk melakukan suatu pekerjaan, misalnya penekanan tombol pada telepon genggam yang dilakukan secara otomatis dengan komando suara.

Contoh dari penggunaan Speech Recognition adalah Voice User Interface (VUI) yang biasa dipakai untuk masyarakat umum. Pada bidan militer, dikenal adanya Air Traffic Controller (AC) yang dipakai oleh para pilot untuk mendapatkan informasi mengenai lalu lintas udara.

Speech Synthesis
Speech Synthesis adalah transformasu dari teks kearah suara (speech). Transformasi ini mengkonversi text ke pemadu suara (speech Synthesis) yang sebisa mungkin dibuat menyerupai suara nyata,disesuaikan dengan aturan-aturan pengucapan bahasa. TTS (Text to Speech) dimaksudkan untuk membaca teks elektronik dalam bentuk buku dan juga untuk menyuarakan teks dengan menggunakan pemaduan suara. Sistem ini dapat digunakan sebagai system komunikasi pada system informasi referral, dapat diterapkan untum membantu orang-orang yang kehilangan kemampuan melihat dan membaca.

Speech Synthesis saat ini telah banyak dimasukkan kedalam sistem operasi baik didlama computer maupun dildama perangkat mobile. Microsoft, Apple dan Google merupakan tiga peusahaan yang memasukkan fitur Speech Synthesis kedalam produk sistem operasinya. Selain itu, ada juga aplikasi Speech Synyhesis yang dibuat oleh pihak ketiga. Beberapa contoh aplikasi tersebut adalah CoolSpeech, Textaloud dan Ultra Hal. Selain berupa suatu software, terdapat pula Speech Synthesis yang berbentuk peragkat keras. Beberapa contoh perangkat keras tersebut adalah Megnevation SpeakJet, Epson S1V30120F01A100 dan Textspeak TTS-EM 


Source and Reference :

Selasa, 21 Oktober 2014

Telematika dan Perkembangannya Serta Tren Kedepannya

Telematika merupakan adopsi dari bahasa Prancis yang sebenarnya adalah “TELEMATIQUE” yang kurang lebih dapat diartikan sebagai bertemunya sistem jaringan komunikasi dengan teknologi informasi.

Pertama kali istilah Telematika digunakan di Indonesia adalah pada perubahan pada nama salah satu laboratorium telekomunikasi di ITB pada tahun 1978. Cikal bakal Laboratorium Telematika berawal pada tahun 1960-an. Sempat berganti-ganti nama mulai dari Laboratorium Switching lalu Laboratorium Telekomunikasi Listrik. Seiring perjalanan waktu dan tajamnya visi para pendiri, pada tahun 1978 dilakukan lagi perubahan nama menjadi Laboratorium Telematika. Ketika itu, nama Telematika tidak sepopuler seperti sekarang. Pada tahun 1978 itulah, di Indonesia, istilah Telematika pertama kali dipakai.

Para praktisi mengatakan bahwa TELEMATICS merupakan perpaduan dari dua kata yaitu dari “TELECOMMUNICATION and INFORMATICS” yang merupakan perpaduan konsep Computing and Communication. Istilah telematika juga dikenal sebagai “the new hybrid technology” karena lahir dari perkembangan teknologi digital. Dalam wikipedia disebutkan bahwa Telematics juga sering disebut dengan ICT (Information and Communications Technology).

Salah satu milis internet Indonesia terbesar adalah milis Telematika. Dari milis inipun tidak ada penjelasan mengapa milis ini bernama telematika, yang jelas arsip pertama kali tercatat dikirimkan pada tanggal 15 Juli 1999. Dari hasil pencarian di arsip mailing list Telematika saya menemukan salah satu ulir diskusi menarik (membutuhkan login) tentang penamaan Telematika yang dikirimkan oleh Paulus Bambang Wirawan.

Integrasi antara sistem telekomunikasi dan informatika yang dikenal sebagai Teknologi Komunikasi dan Informatika atau ICT (Information and Communications Technology). Secara lebih spesifik, ICT merupakan ilmu yang berkaitan dengan pengiriman, penerimaan dan penyimpanan informasi dengan menggunakan peralatan telekomunikasi.
Pada saat ini, perkembangan telematika telah mengalami perkembangan yang cukup baik. Telematika telah dipakai untuk teknologi Sistem Navigasi/Penempatan Global atau GPS (Global Positioning System) sebagai bagian integral dari komputer dan teknologi komunikasi berpindah (mobile communication technology).

Secara lebih spesifik, telematika juga telah diterapkan untuk bidang kendaraan dan lalulintas (road vehicles dan vehicle telematics). Selain itu, teknologi telematika juga sudah banyak sekali diterapkan pada bidang telekomunikasi. Contoh penerapannya yaitu seperti pada pager yang merupakan alat telekomunikasi pribadi untuk menyampaikan dan menerima pesan pendek melalui jaringan radio, Handphone yang merupakan teknologi telematika di bidang telekomunikasi yang menggunakan gelombang elektromagnetik untuk saling menyampaikan pesan, smartphone yang adalah sebuah alat komunikasi seperti handphone namun memiliki sistem operasi yang lebih baik bahkan hampir menyamai kemampuan Komputer.

Selain kedua bidang diatas, teknologi telematika juga sudah diterapkan di bidang pemerintahan. Hal itu ditandai dengan kehadiran E-Government yang berisi informasi dari profil wilayah sampai surat keputusan dari pemerintahan. Badan yang mengurusi telematika di Indonesia yaitu adalah Tim Koordinasi Telematika Indonesia atau yang lebih dikenal dengan TKTI.


Dimasa depan, perkembangan telematika akan sangat dipengaruhi oleh berkembang pesatnya teknologi yang dipakai pada komputer. Baik itu dari sisi perangkat keras maupun perangkat lunaknya. Salah satu tren yang mungkin pasti akan terjadi yaitu adalah penggunaan telematika pada bidang robotika. Dengan berkembangya teknologi komputer, tren tersebut kemungkinan besar akan terjadi.

Source and Reference: